Berita

Sosialisasi SPIP

Sosialisasi Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) dan Pendampingan Manajemen Risiko (Identifikasi dan Analisis Risiko)

Sosialisasi SPIP

Sosialisasi SPIP

Sosialisasi Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) dan Pendampingan Manajemen Risiko (Identifikasi dan Analisis Risiko) yang dilaksanakan tanggal 25 September 2018 di ruang rapat Balitbangda.

Undang – undang di bidang keuangan negara membawa implikasi perlunya sistem pengelolaan keuangan negara yang lebih akuntabel dan transparan. Hal tersebut baru dapat dicapai jika seluruh tingkat pimpinan menyelenggarakan kegiatan pengendalian atas keseluruhan kegiatan di instansi masing-masing.

Sosialisasi SPIP

Sosialisasi SPIP

Perkembangan pengendalian intern di Indonesia selanjutnya ditandai dengan terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). Untuk melaksanakan SPIP secara operasional ditingkat Kabupaten Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara telah menyusun Peraturan Bupati Nomor 7 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, dengan SPIP diharapkan akan meningkatkan efektivitas pengendalian dalam membantu tercapainya tujuan dengan mengenali risiko yang dihadapi dalam pencapaian tujuan tiap kegiatan di perangkat daerah dan dapat membuat tiap kegiatan memiliki :

  1. Keputusan yang lebih efektif
  2. Efektivitas dalam pelaksanaan program-program atau kegiatan
  3. Efektivitas pengalokasian dan penggunaan sumber daya
  4. Standar yang tinggi dalam pelayanan
  5. Standar yang tinggi dalam akuntabilitas
  6. Kreativitas dan inovasi dalam praktik manajemen
  7. Peningkatan kapasitas
  8. Peningkatan moral organisasi, dan
  9. Transparansi

Sosialisasi ini dihadiri oleh Kepala Badan, Kepala Bidang, Kepala Sub Bidang, Kepala Sub Bagian dan PPTK di Lingkungan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara dengan narasumber E. M. Riduan Thalha, SE. ( Aparatur Pengawas Intern Pemerintah) dari Inspektorat Kabupaten Kutai Kartanegara.

Ulasan Singkat Tentang BALITBANGDA KUTAI KARTANEGARA

Pembentukan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara merupakan produk yang lahir sejak era Reformasi dengan  diterapkannya Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, sebagai wujud dari hasil amandemen konstitusi negara UUD 1945.  Pasal 18 ayat (2) UUD 1945 menyatakan bahwa Pemerintah Daerah Provinsi, Daerah Kabupaten dan Kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.)

Prinsip-Prinsip Pelaksanaan Otonomi Daerah melalui  Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 dilandasi pada otonomi luas, nyata dan bertanggung jawab. Pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas dan utuh diletakkan pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota, Sedangkan Otonomi yang berada pada Daerah Provinsi merupakan Otonomi yang bersifat  terbatas.  Sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia memberikan keleluasaan kepada Daerah untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah, dengan menekankan pada prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan dan keadilan serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah.

Berdasarkan Pasal 7 Undang-Undang No. 22 Tahun  1999 tentang Pemerintahan Daerah dinyatakan bahwa Kewenangan Daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan, kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, dan agama.

Oleh sebab itu berdasarkan pengaturan kewenangan sesuai dengan Pasal 7 dan Pasal 11 Undang-Undang No. 22 Tahun 1999, maka dibentuklah Badang Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara.  Melalui pembentukan Badan Penelitian dan Pengembangan daerah, diberikan peluang untuk dapat merumuskan, menetapkan dan melaksanakan kebijakan daerah secara mandiri. Kebijakan dimaksud dapat berupa Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah yang didasarkan tentunya pada hasil-hasil kegiatan penelitian dan pengembangan.

Selain itu, urgensi pembentukan Balitbangda sejalan dengan konsep pembangunan di era modern yang mensyaratkan hendaknya perencanaan pembangunan didasarkan pada hasil-hasil Research & Development (R & D) dalam rangka meminimalisir dampak negative dan kesalahan dalam proses perencanaan pembangunan.

Atas dasar  pertimbangan yuridis, historis dan geografis dengan luas wilayah Kutai Kartanegara yang mencapai 27.263 km2, dengan pembagian wilayah  terdiri dari 18 kecamatan dan 225 Desa dan kelurahan, maka pembentukan  Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara melalui Peraturan Daerah No. 18 Tahun 2001 dianggap penting dan relevan  dengan Pimpinan Pertama yang diangkat pada saat itu  adalah  Drs. H. Basran Yunus, MM.

Adapun tugas pokok dan fungsi Balitbangda adalah melaksanakan kegiatan Penelitian, pengkajian, pengembangan, perekayasaan, penerapan, pengoperasian, dan evaluasi kebijakan yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis, untuk memperoleh informasi, data dan keterangan yang terkait sebagai bahan  perumusan dalam penetapan kebijakan daerah. ( Soleh Pulungan)

ANALISIS POTENSI SDA SEBAGAI KOMODITAS UNGGULAN DI KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA TAHUN 2015

Pertumbuhan ekonomi daerah pada dasarnya dipengaruhi oleh keunggulan komperatif suatu daerah, spesialisasi wilayah, serta potensi ekonomi yang dimiliki oleh daerah tersebut. Oleh karena itu, pemanfaatan dan pengembangan seluruh potensi ekonomi menjadi prioritas utama yang harus digali dan dikembangkan dalam melaksanakan pembangunan ekonomi daerah secara berkelanjutan.

Penetapan suatu komoditas sebagai komoditas unggulan daerah harus disesuaikan dengan potensi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang dimiliki oleh daerah.  Sumber daya alam terdiri atas sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (unrenewable) dan sumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable).  Untuk itu, kajian ini mengkaji sumber daya alam yang diperbaharui (renewable), yakni sektor pertanian.

Komoditas yang dipilih sebagai komoditas unggulan daerah adalah komoditas yang memiliki produktifitas yang tinggi dan dapat memberikan nilai tambah sehingga berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat. Selain itu, penetapan komoditas unggulan daerah juga harus mempertimbangkan kontribusi suatu komoditas terhadap pertumbuhan ekonomi dan aspek pemerataan pembangunan pada suatu daerah (Syahroni dalam Syahab, dkk.,  2013).

Hal terpenting bagi ukuran komoditas adalah memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif sehingga mampu bersaing di pasar dengan komoditas pesaingnya. Oleh karena itu, sangat perlu diketahui apakah komoditas tanaman yang ada saat ini memiliki salah satu atau keduanya dari kriteria keunggulan tersebut.

Sektor pertanian dalam arti luas merupakan pembentuk struktur perkonomian yang utama setelah migas di Kutai Kartanegara, tetapi gambaran tersebut belum dapat menjelaskan dan mengarahkan secara lebih spesifik komoditas unggulan pertanian yang ada pada saat ini. Maka dipandang perlu untuk melakukan penelitian mengenai komoditi unggulan sebagai prioritas dan strategi pengembangannya, sehingga pada akhirnya nanti dapat diketahui komoditi unggulan mana saja yang dapat dikembangkan dan dapat bersaing kompetitif dengan komoditi dari luar daerah serta komoditi unggulan dapat menjadi penggerak perekonomian masyarakat di Kabupaten Kutai Kartanegara khususnya di kecamatan Kota Bangun, Tenggarong Seberang, dan Muara Jawa.

Tujuan Kajian

Tujuan yang hendak dicapai dalam kajian ini adalah sebagai berikut.

  1. Untuk mengetahui, menganalis, dan menetapkan sub sektor pertanian unggulan di Kecamatan Kota Bangun, Tenggarong Seberang, dan Muara Jawa.
  2. Untuk menentukan dan menganalisis komoditas unggulan yang akan dijadikan prioritas pengembangan di Kecamatan Kota Bangun, Tenggarong Seberang, dan Muara Jawa.
  3. Untuk menentukan strategi yang akan digunakan untuk mengembangkan komoditas unggulan di Kecamatan Kota Bangun, Tenggarong Seberang dan Muara Jawa.

 

Kegunaan Kajian

Kegunaan yang ingin diperoleh dari kegiatan ini sebagai berikut:

  1. Sebagai referensi bagi Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dalam mengembangkan dan memajukan komoditas unggulan daerah.
  2. Sebagai referensi bagi Pemerintah Kecamatan dalam mengembangkan dan memajukan komoditas unggulan daerah.
  3. Sebagai data dan informasi bagi investor (penanam modal) dalam mengembangkan dan mengelola komoditas unggulan daerah di Tiga Kecamatan.
  4. Sebagai rujukan bagi masyarakat dalam pengembangan komoditas unggulan daerah sesuai dengan potensi wilayah masing‐masing di Tiga Kecamatan.

Kesimpulan

  • Berdasarkan analisis LQ diketahui bahwa sub sektor pertanian unggulan untuk Kecamatan Kota Bangun adalah sub sektor tanaman bahan pangan dan sub sektor perikanan. Kecamatan Tenggarong Seberang sub sektor pertanian unggulan adalah sub sektor bahan pangan  dan sub sektor peternakan.  Selanjutnya untuk Kecamatan Muara Jawa sub sektor unggulan pertanian adalah sub sektor perikanan dan sub sektor perkebunan.
  • Melalui analisis AHP setelah diperoleh sub sektor unggulan, maka diperoleh komoditas prioritas yang dikembangkan untuk Kecamatan Kota Bangun adalah padi sawah dan perikanan keramba. Komoditas prioritas untuk Kecamatan Tenggarong Seberang adalah padi sawah dan ternak sapi.  Kecamatan Muara Jawa adalah perikanan tambak dan kelapa sawit.
  • Berdasarkan analisis SWOT diperoleh strategi pengembangan untuk komoditas prioritas masing-masing kecamatan.
  • Kecamatan Kota Bangun. Kecamatan Kota Bangun memiliki dua komoditas unggulan sebagai prioritas untuk dikembangakan.  Adapun berdasarkan hasil analisis strategi pengembangan komoditas padi sawah di Kecamatan Kota Bangun adalah menggunakan strategi diversifikasi. Selanjutnya strategi pengembangan komoditas perikanan keramba berdasarkan hasil analisis adalah dengan menggunakan strategi defensif.
  • Kecamatan Tenggarong Seberang. Komoditas unggulan dan sebagai prioritas untuk dikembangkan adalah padi sawah dan ternak sapi.  Berdasarkan hasil analisis strategi pengembangan padi sawah adalah strategi agresif. Demikian pula dengan strategi pengembangan komoditas ternak sapi yaitu dengan menggunakan strategi agresif.

Kecamatan Muara Jawa. Komoditas unggulan pertanian yang dijadikan prioritas pengembangannya adalah perikanan tambak dan kelapa sawit.  Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan strategi pengembangan komoditas perikanan tambak adalah dengan menggunakan strategi putar balik/turn-around.  Strategi pengembangan komoditas kelapa sawit yaitu dengan menggunakan strategi diversifikasi.

Kemeriahan HUR RI Ke 73

Memperingati dan memeriahkan HUT RI Ke-73

Lomba futsal pakai sarung

Lomba futsal pakai sarung

Balitbangda- Dalam rangka memperingati  Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-73 Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kutai Kartanegara  melaksanakan Upacara peringatan Hari kemerdekaan di  lingkungan Balitbangda yang dirangkai dengan Beberapa Lomba-lomba diantaranya ; lomba Futsal pakai sarung,  Bola Volly, Lari sarung, makan krupuk dan asen naga yang dilaksanakan pada hari 16 Agustus 2018 semua kegiatan ini diikuti oleh seluruh ASN dan THL dilingkungan balitbangda untuk memeriahkan HUT-RI yang ke 73 seperti di katakan oleh Koordinator Lomba Novan Fachrozie, S.Sos.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kutai Kartanegara Bapak Ir. H. Akhmad Hardi Dwi putra menyampaikan, Selain Memperingati upacara bendera HUT-RI untuk mengenang jasa pahlawan Pendiri Bangsa dan menyemarakannya dengan berbagai lomba, harapan adalah agar lebih tercipta keakraban seluruh ASN dan THL yang ada di Balitbangda sehingga didalam beraktivitas dikantor menimbulkan suasana yang lebih menyenangkan.(nrm)

Beseprah Tradisi Makan Bersama Masyarakat Kutai

Beseprah merupakan tradisi suku adat Kutai, penduduk asli di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Dalam Bahasa Kutai, beseprah berarti makan bersama-sama dengan cara duduk bersila di atas tikar. Festival Beseprah ini sebagian dari rangkaian acara Erau Adat Kutai dan Intenational Folk Art Festival (EIFAF) 2018 yang digelar pada Rabu (25/7/2018).

Beragam makanan khas Kutai disajikan untuk dinikmati bersama, makanan disediakan oleh berbagai pihak baik dari instansi swasta maupun pemerintah, warga tinggal memilih makanan yang mereka suka secara gratis, kemudian duduk bersila bersama-sama untuk menikmatinya.

Dalam tradisi ini tidak ada batasan sosial antara warga dan pejabat, mereka makan bersama menikmati hidangan tanpa membedakan jabatan, tentu saja ini untuk mengakrabkan dan mendekatkan pejabat dengan rakyatnya.

 

 

 

 

 

 

 

Tidak hanya warga lokal Tenggarong, beseprah tersebut juga diikuti sejumlah warga negara asing yang tergabung dalam tim kesenian yang berpastisipasi dalam Erau Adat Kutai dan Intenational Folk Art Festival (EIFAF) 2018, tentu saja acara makan bersama di Kota Raja ini sangat unik.

Penanda tanganan kerjasama kearsipan

Penanda Tanganan Naskah Perjanjian kerja sama tentang Kearsipan antara Balitbangda Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara dengan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara

Penanda tanganan kerjasama kearsipan

Penanda tanganan kerjasama kearsipan

Tenggarong- Pada Bulan April 2018 yang lalu, diadakan audit tentang kearsiapan oleh Dinas Kearsipan dan perpustakaan daerah Kabupaten kutai Kartanegara di Balitbangda dan hasil dari audit tersebut dinyatakan bahwa tata kelola arsip Balitbangda termasuk katagori rendah, harus diakui sampai saat ini kearsipan Balitbangda belum tertata dengan baik hal ini dikarenakan belum adanya SDM dan sarana serta pra sarana kearsipan yang memadai, namun setelah menerima hasil audit tersebut Balitbangda langsung mengambil langkah-langkah pembenahan secara bertahap dan menjadikan pemecut motivasi bagi Balitbangda untuk membuat penataan kearsipan di lingkungan Balitbangda menjadi lebih baik lagi.  hal tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dearah Bapak Ir. H. Akhmad Hardi Dwi putra pada cara Pembinaan Kearsipan dan Penanda tanganan Perjanjian kerja sama tentang kerasipan dengan Kantor Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara pada tanggal 4 Mei 2018.

Dalam sambutannya Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kutai Kartanegara mengatakan bahwa Kerja sama karsiapan ini sangatlah penting dilakukan agar tata kelola arsip dilingkungan pemerintahan Kabupaten kutai Kartanegara menjadi lebih baik, Konkritnya Penyelenggaraan kearsipan nasional belum bersifat terpadu, sistemik, dan komprehensif yang semuanya tidak terlepas dari pemahaman dan pemaknaan umum terhadap arsip yang masih terbatas dan sempit oleh berbagai kalangan, termasuk di kalangan penyelenggara negara dan espektasi kedepan pelan tapi pasti pengelolaan akan bersifat terpadu sistemik dan lebih komperhensip sebagaimana yang di muat didalam Undang Undang Nomor 43 tahun 2009 tentang Kearsipan.

Dalam kesempatan yang sama disampaikan tentang tata kelola kearsipan yang disampaikan oleh Para Arsiparis dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah kutai Kartanegara serta dialog  tentang hal-hal yang berhubungan dengan kearsipan tersebut.(nrm)

Wakil Bupati Panen Jelai

Wakil Bupati Kukar Panen Perdana Tanaman Jelai Sebagai Hasil Kegiatan LITBANG

Wakil Bupati Panen Jelai

Wakil Bupati Panen Jelai

Wakil Bupati Kutai Kartanegara Drs. Edi Damansyah, M.Si  melakukan panen perdana tanaman Jelai di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Gunawan (PKBM Gunawan) Desa Loh Sumber Kecamatan Loa Kulu. Pada hari Selasa tanggal 5 September 2017. Panen perdana jelai tersebut merupakan hasil Kajian Karakteristik Varietas Jelai (CoixLacryma–Jabi L) sebagai Plasma Nuftah Tanaman Pangan Alternatif di Kabupaten Kukartahun 2017, dan merupakan Rencana Kerja Tahunan (RKT) Badan Penelitiandan Pengembangan  Daerah Kabupaten Kutai kartanegara.

Wakil Bupati Kutai kartanegara memberikan apresiasi sekaligus menyambut baik terhadap hasil penelitian yang dilakukan oleh Tim Peneliti Balitbangda Kutai kartanegar bekerjasama dengan Tim Peneliti dari Fakultas Pertanian Unmul Samarinda. Dari hasil kajian tersebut, diketahui bahwa tanaman Jelai merupakan tanaman asli yang cukup prospektif untuk dikembangkan di Kabupaten.Kutai Kartanegara.

Sementara itu, Sekretaris  Balitbangda Kukar H. Yusra, SP, MM, menjelaskan kegiatan kajian  Karakteristik  Varietas Jelai merupakan kelanjutan dari kajian identifikasi tanaman Jelai tahun 2016 sebagai sumber panganal ternatif yang diharapkan cukup  potensial dikembangkan  di Kabupaten Kutai kartanegara.

Lebih lanjut dikatakannya budidaya tanaman Jelai sebenarnya  telah lama dilakukan oleh petani tradisional di Kukar, Jelai biasanya ditanam  bersamaan dengan padi ladang, namun sejak era program Bimas dan Inmas budidaya tanaman padi, para petani lebih fokus mengembangkan budidaya tanaman padi sawah.  Sehingga budidaya padi ladang secara perlahan mengalami penurunan,

Mencermati fenomena tersebut, Balitbangda Kukar tertarik untuk meneliti dan mengembangkan tanaman Jelai ini sebagai sumber pangan alternatif yang cukup potensial bagi masyarakat untuk masa mendatang di Kukar.Hal ini dikaitkan dengan perlunya ketersediaan pangan alternatif mengingat penurunan produksi padi yang mengalami tantangan akibat terjadinya alih fungsi lahan.

Acara Panen tanaman Jelai dihadiri oleh Kepala Disperindakop Kukar H Surip, Kadis Pertanian, Penyuluhan dan Peternakan Kabupaten Kutaikartanegara Sumarlan,dan Camat Loa Kulu Ardiansyah. Selain itu, acara tersebut dihadiri oleh para peneliti, penyuluh pertanian dan perkebunan, staf Balitbangda Kukar dari OPD di Kabupaten. Kutai Kartanegara.

Kajian Pemanfaatan dan Pengolahan Eceng Gondok Sebagai Pupuk Organik dan Aplikasinya Pada Tanaman Hortikultura

Eceng gondok (Eichornia crassipes (Mart) (Solms) merupakan tumbuhan air terbesar yang hidup mengapung bebas (floating plants) yang ditemukan pertama kali pada air tergenang di Daerah Aliran Sungai Amazon di Brasil pada tahun 1824 oleh Karl von Martius (Pieterse dalam Dinges, 1982), diperkirakan pertama kali masuk ke Indonesia dan dipelihara di Kebun Raya Bogor pada tahun 1894. Namun karena pertumbuhannya yang sangat cepat, eceng gondok yang tadinya merupakan tanaman hias berbunga indah kemudian berubah menjadi tanaman pengganggu / gulma air (aquatic weeds) karena menimbulkan kerugian. Pada suatu bendungan (waduk) gulma air akan menimbulkan dampak negatif berupa gangguan terhadap pemanfaatan perairan secara optimal yaitu mempercepat pendangkalan, menyumbat saluran irigasi, memperbesar kehilangan air melalui proses evapotranspirasi, mempersulit transportasi perairan, menurunkan hasil perikanan. Pengolahan eceng gondok melalui teknologi pengomposan  menghasilkan produk berupa bahan organik yang lebih halus dan telah terdekomposisi sempurna. Proses pengomposan itu sendiri merupakan proses hayati yang melibatkan aktivitas mikroorganisme antara lain bakteri, fungi dan protozoa (Golueke, 1992). Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penggunaan eceng gondok sebagai sumber bahan organik mampu memperbaiki struktur fisik tanah, meningkatkan ketersediaan unsur hara, pertumbuhan vegetatif dan produksi jagung manis (Soewarno, 1985 ; Suprihati 1991).

Eceng gondok

Eceng gondok

Program peningkatan produksi tanaman pangan dan hortikultura untuk memenuhi kebutuhan dan memenuhi swasembada pangan di Kabupaten Kutai Kartanegara terus dilakukan dengan berbagai cara dan usaha, baik secara traditional maupun modern. Peningkatan produksi pangan yang harus dicapai diharapkan selain dari segi kualitas juga dari segi kuantitas. Dalam kaitannya dengan hal ini, peran pemupukan sangat penting. Untuk meningkatkan kualitas produk, penggunaan pupuk organik sebagai substitusi pupuk kimia sangat diperlukan, karena produk yang dihasilkan bersifat organik dan bersifat ramah lingkungan. Dengan adanya upaya pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dalam menambah fungsi lahan untuk pengembangan tanaman pangan dan perkebunan, maka diharapkan beberapa permasalahan akan kelangkaan atau kekurangan pupuk dapat teratasi dengan pemanfaatan eceng gondok dan bahan organik lokal lainnya melalui penerapan teknologi pengomposan.

Pencacahan Enceng Gondok

Pencacahan Enceng Gondok

 

Pupuk eceng gondok

Pupuk eceng gondok

Tujuan kegiatan ini :

  1. Mengkaji potensi dan permasalahan eceng gondok di Kabupaten Kutai Kartanegara pada umumnya dan di 3 (tiga) kecamatan pada khususnya yaitu Kec. Muara Wis, Kec. Kota Bangun dan Kec. Kenohan.
  2. Mendapatkan pola pengelolaan eceng gondok untuk bahan baku pupuk organik dan teknologi pengomposannya.
  3. Mendapatkan teknologi aplikasi penggunaan pupuk organik dari eceng gondok untuk pengembangan tanaman hortikultura dan tanaman pangan guna mendapatkan produk organik yang ramah lingkungan. Penggunaan pupuk organik juga dimaksudkan sebagai substitusi penggunaan pupuk kimia yang diharapkan dapat mengurangi dampak terhadap lingkungan.

 

Dampak negatif yang ditimbulkan apabila eceng gondok dibiarkan tumbuh tak terkendali adalah mengakibatkan  gangguan terhadap pemanfaatan perairan secara optimal, yakni menyebabkan pendangkalan, dimana air permukaan menjadi lebih sedikit volumenya karena naiknya dasar air. Hal ini disebabkan karena tanaman eceng gondok menyerap air yang sangat banyak. Kehilangan air terjadi melalui proses evapotranspirasi (proses hilangnya air melalui permukaan air dan tanaman). Berkurangnya volume air membawa dampak merugikan pada pengairan sawah, pembangkit listrik, maupun pemeliharaan ikan yang menggunakan karamba. Selain itu, melimpahnya eceng gondok akan menyumbat saluran irigasi. Apabila tidak ditangani secara serius dapat menyebabkan banjir, karena tanaman yang terseret air akan menumpuk di pintu air dan mentumbat aliran air. Akibat lain yang ditimbulkan adalah mempersukar transportasi perairan dan menurunkan nilai estetika kawasan perairan. Pesatnya pertumbuhan eceng gondok pada perairan yang tercemar (Nitrat dan Fosfat) dapat menyebabkan terjadinya pengeruhan air (eutrofikasi ).

 

Karena pertumbuhannya yang sangat cepat, eceng gondok dianggap sebagai tanaman pengganggu (gulma) yang menimbulkan banyak kerugian terhadap pemanfaatan perairan. Saat ini untuk mengendalikan pertumbuhan eceng gondok umumnya masih dilakukan dengan cara pembersihan dari perairan, dan selanjutnya dibuang ke lingkungan / daratan sekitar dan dibiarkan menjadi sampah. Namun dibalik itu ternyata eceng gondok memiliki peluang besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan penghasil berbagai macam produk yang menguntungkan. Salah satu alternative pemanfaatannya adalah eceng gondok sangat potensial untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik. Bahan organik sangat untuk memperbaiki kesuburan tanah, baik fisik, kimia maupun biologi tanah. Bahan organik merupakan perekat butiran lepas atau bahan pemantap agregat, sebagai sumber hara tanaman dan sumber energi dari sebagian besar organisme tanah (Nurhayati, et.al, 1986). Bahan organik juga menjadikan fluktuasi suhu tanah lebih kecil. Bahan organik dapat membantu akar tanaman menembus tanah lebih dalam dan luas sehtanah lebih kokoh dan lebih mampu menyerap unsur hara dan air dalam jumlah banyak. Untuk mempertahankan kandungan bahan organik tanah diperlukan tambahan bahan organik ke dalam tanah antara lain pupuk organik yang terbuat dari eceng gondok. Pupuk organik tersebut dapat diaplikasikan sebagai media tumbuh persemaian, pembibitan dan pertumbuhan tanaman dalam wadah (polybag, pot, kaleng bekas, dsb). Selain itu pupuk organik dapat pula digunakan sebagai penyubur lahan yang mutlak diperlukan untuk menyuburkan kembali lahan – lahan pertanian yang telah mengalami penurunan kesuburan.  Selain sebagai pupuk organic, alternative lain dari pemanfaatan eceng gondok adalah sebagai bahan untuk membuat aneka macam kerajinan anyaman, seperti tas, mebel (furniture), tikar, sandal, bantal, keset, bingkai foto dan sebagainya. Eceng gondok juga berpeluang untuk dimanfaatkan sebagai bahan untuk mereduksi limbah cair industri misalnya pada pabrik tahu dan kecap.

 

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tanaman eceng gondok dapat merupakan gulma yang merugikan tetapi dalam jumlah besar mempunyai peluang untuk dimanfaatkan sebagai bahan penghasil berbagai macam produk yang menguntungkan.

Enceng Gondong

Enceng Gondong

Kerajinan Eceng Gondok

Kerajinan Eceng Gondok

Kerajinan Eceng Gondok

Kerajinan Eceng Gondok

Kajian Plasma Nutfah Tumbuhan Doyo

Keanekaragaman genetik merupakan sumber daya perekonomian, pariwisata, kesehatan, dan budaya. Keberadaan keanekaragaman genetik itu sendiri tidak merata di setiap wilayah, bergantung pada ekosistem wilayahnya (Wardana 2002). Penggunaan potensi plasma nutfah telah berhasil meningkatkan produksi pertanian, tetapi tanpa disadari keberhasilan tersebut ternyata memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit, antara lain berupa hilangnya sumber daya genetik yang sebagian besar belum teridentifikasi, terutama yang ada di kawasan hutan.

Kalimantan Timur memiliki keanekaragaman plasma nutfah tumbuhan serat, antara lain adalah tumbuhan Doyo (Curculigo latifolia).  Tumbuhan Doyo merupakan tumbuhan spesifik dengan morfologi menyerupai  tumbuhan  pandan.  Tumbuhan ini termasuk tumbuhan rendah (perdu) yang memiliki habitat di lantai hutan.

Secara tradisional, tumbuhan doyo banyak dimanfaatkan oleh masyarakat lokal (dayak) digunakan untuk bahan dasar tenunan tradisional dengan memanfaatkan daun tumbuhan doyo. Daun doyo dipotong sepanjang 1-1,5 meter dan direndam di dalam air. Setelah daging daun hancur lalu seratnya digunakan sebagai bahan tenunan kain doyo (ulap doyo).

Ulap doyo dianggap sebagai tenun ikat yang sangat khas Dayak Benuaq. Motifnya stilasi dari bentuk flora, fauna, dan alam mitologi, sebagaimana lazimnya motif hias masyarakat Dayak lainnya. Akulturasi dengan budaya lain juga meresap hingga ke pedalaman. Maka masyarakat Benuaq pun kemudian mengenal kain tenun kapas dengan warna-warni yang sangat kontras dengan warna serat tenun mereka. Dan dengan sangat kreatif masyarakat Benuaq mengaplikasikan kain-kain tersebut pada karya tenun ikat mereka. Hasilnya adalah busana upacara yang dibuat dari kombinasi tenunan serat doyo dengan kain warna-warni sebagai corak hias yang artistik, misalnya busana adat yang dipakai oleh para pemeliaten (ahli pengobatan tradisional) Kain tenun ulaf doyo beberapa waktu yang lalu, pernah menjadi bahan cinderamata dan hiasan bahkan digunakan untuk bahan pakaian modern. Sehingga mampu menunjang ekonomi masyarakat, terutama di Desa Tanjung Isui, Kecamatan Jempang.

Eksistensi keberadaan Ulaf Doyo (kain Doyo) saat ini sudah agak menurun, hal ini disebabkan karena pengrajin tenun yang sudah berkurang ditambah lagi dengan berkurangnya populasi tumbuhan doyo yang dekat dengan desa sekitar.  Selain itu hingga saat ini tumbuhan doyo tersebut belum dibudidayakan oleh masyarakat, sehingga  hal ini berpeluang terjadi kepunahan. Kajian  ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang jenis, dan karakteristik tumbuhan doyo Kabupaten Kutai Kartanegara, serta penyebaran tumbuhan doyo di wilayah administratif Kabupaten Kutai Kartanegara dan pemanfaatannya oleh masyarakat lokal.

Kegiatan ini dilaksanakan di 5 (lima) Kecamatan  di Kabupaten Kutai Kartanegara meliputi : Kecamatan Tabang, Kecamatan Kembang Janggut, Kecamatan Kenohan, Kecamatan Muara Muntai dan Kecamatan Kota Bangun. Berdasarkan hasil analisis tanah pada tempat tumbuh tanaman Doyo di berbagai wilayah studi, menunjukkan bahwa tumbuhan doyo dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, dan lingkungan agroekosistem.

Salah satu alat perkembangbiakan tumbuhan Doyo secara generatif, yaitu melalui biji, maka berdasarkan hasil karakterisasi ciri morfologi biji dan buah tumbuhan Doyo adalah :

  • Buah yang telah matang berbentuk kerucut bulat, berwarna putih dan memanjang pada bagian ujungnya (berwarna agak kehitaman) seperti pada Gambar 2.
  • Buahnya berada dalam bentuk tandan, bentuk buah oval sampai silinder, mengandungi banyak biji berwarna hitam, bila masak daging buah bertekstur lembut dan berasa manis.
  • Bentuk buah tumbuhan Doyo ada yang bulat dengan ujung lancip. Ukurannya sekitar panjang sampai ke ujung 5 cm dan lebar 5 – 2 cm.
  • Kulit buah tampak berbulu-bulu halus seperti beludru dan berwarna putih keabuan.
  • Daging buahnya putih.
  • Di dalam daging buah terdapat biji, ada jenis buah Doyo yang bijinya tersusun rapi dan buah doyo yang memiliki Biji letaknya di dalam daging buah berpencar serta berukuran lebih kecil.
  • Biji Tumbuhan Doyo berwarna hitam yang umumnya tersebar di dalam daging buah, sehingga pada penampang melintang buah tampak berbintik-bintik, seperti daging buah berry.

 KESIMPULAN

  1. Tumbuhan Doyo merupakan tumbuhan semak, dengan daur hidup Parenial, berdasarkan taksonomi tumbuhan termasuk dalam famili : Hypoxidaceae atau Amaryllidaceae, genus : Curculigo dan nama latinnya adalah  Curculigo latifolia, sp.
  2. Tumbuhan doyo memiliki penyebaran yang luas, dan pada semua wilayah studi terdapat populasi  doyo dengan kisaran sebaran populasi per titik sekitar 10 – 50 m2.
  3. Hasil identifikasi eksplorasi tumbuhan doyo, terdapat 11 (sebelas) karakter pembeda (marker) antar jenis tumbuhan doyo yang tersebar di 5 (lima) wilayah studi, yaitu (a). Tebal daun, (b), Tinggi tanaman, (c), Ukuran daun, (d). Warna tangkai daun dan sulur daun (d). Warna mahkota bunga,     (e). Bentuk buah, (f). Bentuk tandan buah, (g). Bentuk ujung daun, (h). Bentuk batang, (i). Organ bunga, (j). Susunan biji dalam daging buah, (k). Habitat (tempat tumbuh) alami.
  4. Kandungan serat daun doyo sekitar 40 – 55 % berat segar tanaman.
  5. Populasi tumbuhan doyo sebarannya paling banyak ditemui pada lahan Hutan Sekunder Muda dengan intensitas cahaya sekitar 50 – 70 persen.
  6. Tumbuhan doyo mengandung bahan metabolit sekunder, yaitu : senyawa Sinomenine (C19H23NO4 ).
  7. Tumbuhan sejenis Doyo banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku pakaian, karena sifatnya yang dapat menyerap keringat dengan baik dan cepat kering serta dapat  menghambat berkembangbiakan bakteri yang menimbulkan aroma pada tubuh manusia (berdasarkan kajian literatur).
  8. Tumbuhan Doyo dapat dibudidayakan secara intensif dengan 2 (dua) cara, yaitu dengan stolon/umbi akar (cara vegetatif) dan dengan bijinya (cara generatif).

 SARAN

  1. Untuk menghindari kepunahan terhadap keberadaan tumbuhan doyo di alam, perlu adanya upaya pelestarian dalam bentuk budidaya secara intensif.
  2. Karena keberadaan populasi tumbuhan doyo di alam tersebar pada berbagai lokasi, terutama hutan sekunder muda dan lahan hutan, maka dengan tingginya proses percepatan alih fungsi lahan, dikhawatirkan kelestarian tumbuhan doyo akan terganggu.
  3. Perlu adanya kajian yang lebih mendalam tentang potensi dan manfaat tumbuhan doyo, baik sebagai bahan baku serat alam maupun sebagai fungsi dan nilai tambah lainnya.
  4. Adanya motivasi dari pemerintah, agar masyarakat adat (lokal), terutama suku Dayak yang berada di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara, agar dapat memanfaatkan dan memberdayakan kembali tumbuhan doyo sebagai salah satu bahan pakaian tradisional (seperti Ulaf Doyo/kain Doyo) atau modern, agar eksistensi budaya lokal tetap lestari.