Sosialisasi SPIP

Sosialisasi Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) dan Pendampingan Manajemen Risiko (Identifikasi dan Analisis Risiko)

Sosialisasi SPIP

Sosialisasi SPIP

Sosialisasi Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) dan Pendampingan Manajemen Risiko (Identifikasi dan Analisis Risiko) yang dilaksanakan tanggal 25 September 2018 di ruang rapat Balitbangda.

Undang – undang di bidang keuangan negara membawa implikasi perlunya sistem pengelolaan keuangan negara yang lebih akuntabel dan transparan. Hal tersebut baru dapat dicapai jika seluruh tingkat pimpinan menyelenggarakan kegiatan pengendalian atas keseluruhan kegiatan di instansi masing-masing.

Sosialisasi SPIP

Sosialisasi SPIP

Perkembangan pengendalian intern di Indonesia selanjutnya ditandai dengan terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). Untuk melaksanakan SPIP secara operasional ditingkat Kabupaten Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara telah menyusun Peraturan Bupati Nomor 7 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, dengan SPIP diharapkan akan meningkatkan efektivitas pengendalian dalam membantu tercapainya tujuan dengan mengenali risiko yang dihadapi dalam pencapaian tujuan tiap kegiatan di perangkat daerah dan dapat membuat tiap kegiatan memiliki :

  1. Keputusan yang lebih efektif
  2. Efektivitas dalam pelaksanaan program-program atau kegiatan
  3. Efektivitas pengalokasian dan penggunaan sumber daya
  4. Standar yang tinggi dalam pelayanan
  5. Standar yang tinggi dalam akuntabilitas
  6. Kreativitas dan inovasi dalam praktik manajemen
  7. Peningkatan kapasitas
  8. Peningkatan moral organisasi, dan
  9. Transparansi

Sosialisasi ini dihadiri oleh Kepala Badan, Kepala Bidang, Kepala Sub Bidang, Kepala Sub Bagian dan PPTK di Lingkungan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara dengan narasumber E. M. Riduan Thalha, SE. ( Aparatur Pengawas Intern Pemerintah) dari Inspektorat Kabupaten Kutai Kartanegara.

Ilustrasi (credit-merdeka.com)

Renungan Kreatif

Ketergantungan terhadap  hasil sumber daya alam yang berlimpah  membuat kita tertidur lelap dan ketika kita bangun dari tidur ternyata kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa sumber daya alam berupa tambang minyak bumi, batubara dan semua sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui yang dibangga-banggakan selama ini sudah sangat berkurang, ini tentunya sangat berpengaruh terhadap pendapatan daerah yang bersumber dari dana bagi hasil dari sektor pertambangan semantara itu pendapatan asli daerah (PAD) kita saat ini masih sangat jauh dari yang diharakan.

Merosotnya Dana Bagi Hasil (DBH) pusat dan daerah sangat berdampak terhadap APBD kutai Kartanegara akibatnya, pembangunan didaerah pun menjadi terhambat dan macet, sementara itu pendapatan asli daerah kita saat ini masih berkisar hanya  Rp. 300  miliaran saja, tentunya  masih sangat jauh untuk menopang pembangunan daerah.

Jika kita lihat daerah lain yang pendapatan asli daerahnya lebih besar dari dana bagi hasil terlihat lebih mandiri dalam hal pembangunan daerahnya. ini disebabkan pendapatan asli daerah lebih stabil dari pendapatan bagi hasil dikarenakan dana yang bersumber dari migas sangat bergantung dari perdagangan migas dunia, ketika harga migas mengalami kenaikan atau penurunan maka imbasnya persentase pembagian hasil pun mengalami perubahan ketika mengalami kenaikan ini sangat diharapkan untuk lebih banyak membatu percepatan pembangunan daerah akan tetapi ketika mengalami penurunan  sangat berpengaruh terhadap pembangunan daerah seperti yang kita rasakan saat ini pembangunan menjadi terhambat bahkan macet di Kutai Kartanegara.

Belajar dari pengalaman tersebut perlu bagi kita semua terlebih khusus pemangku kebijakan yang ada untuk merubah pola fikir dari ketergantungan terhadap dana bagi hasil kemudian mencoba mencari dan menggali sumber-sumber lain sebagai pemasukan bagi pendapatan asli daerah, jika kita mencoba berfikir dan mengamati dengan sekasama masih banyak potensi daerah yang dapat kita manfaatkan sebagai sumber pendapatan asli daerah walaupun potensi  pada setiap sumber tersebut tidak menghasilkan nominal yang besar tetapi paling tidak kita sudah berusaha untuk menggali  potensi PAD yang ada, lebih baik berbuat hal yang kecil dari pada hanya duduk diam menunggu dana bagi hasil dan tidak berbuat apa-apa. (nrm)

Sekilas tentang Ibadah Qurban

  • Pengertian Qurban

Qurban adalah penyembelihan binatang qurban yang dilakukan pada Hari Raya Haji (selepas sholat Idul Adha) dan hari-hari Tasyriq yaitu tanggal 11,12 dan 13 Zulhijjah kerena beribadah kepada  Allah s.w.t.

Dari Aisyah r.a Nabi Muhammad s.a.w. telah bersabda yang bermaksud: “Tiada suatu amalan yang dilakukan oleh manusia pada Hari Raya Qurban, yang lebih dicintai Allah selain daripada menyembelih hewan qurban. Sesungguhnya hewan qurban itu pada hari kiamat kelak akan datang berserta dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya, dan sesungguhnya sebelum darah qurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima disisi Allah, maka beruntunglah kamu semua dengan (pahala) qurban itu.”    (Riwayat al-Tarmuzi, Ibnu Majah dan al-Hakim)

Zaid bin Arqam berkata: “Mereka telah bertanya, Wahai Rasullullah, apakah Udhhiyah (Qurban) itu? Nabi Muhammad s.a.w. menjawab: “Ia sunnah bagi Bapak kamu Nabi Ibrahim.” Mereka bertanya lagi: Apakah ia untuk kita? Rasulullah s.a.w. menjawab: “Dengan tiap-tiap helai bulu satu kebaikan.” Mereka bertanya: “maka bulu yang halus pula? Rasullullah s.a.w bersabda yang bermaksud “Dengan tiap-tiap helai bulu yang halus itu satu kebaikan.”    (Riwayat Ahmad danIbnuMajah).

  • Hukum Qurban

Sebagianulamaberpendapatnahwakurbanituwajib, sedangkansebagian lain berpenadpatsunat.Alasan yang menyatakan wajib yaitu firman Allah dalam surat Al-Kautsar ayat 2.

Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berqurbanlah. (QS. Al-Kautsar: 2)

Sedangkan alasan yang menyatakan bahwa kurban itu sunah adalah sabda rasulullah yang berbunyi:

”Saya disuruh menyembelih kurban dan kurban itu sunah bagi kamu.”(Riwayat Tirmidzi)

Hukumnya Sunnat Muakkad (sunnat yang dikuatkan) atas orang yang memenuhi syarat-syarat seperti berikut:

  1. Islam
  2. Merdeka (Bukanhamba)
  3. Balighlagiberakal
  4. Mampuuntukberqurban

Binatang yang sah dijadikan kurban ialah yang tidak bercacat, misalnya pincang, sangat kurus, sakit, putus telinga, putus ekornya, dan telah berumur sebagai berikut:

  1. Domba (Da’ni) yang telah nerumur satu tahun lebih atau sudah berganti giginya.
  2. Kambing yang sudah nerumur dua tahun lebih.
  3. Unta yang telah berumur lima tahun lebih.
  4. Sapi, kerbau yang telah berumur dua tahun lebih.

Seekor kambing hanya untuk satu orang , diqiyaskan dengan denda menninggalkan wajib haji. Tetapi seekor unta, kerbau, dan sapi boleh buat kurban tujuh orang.Sebagaimana hadits riwayat muslim yaitu :

Dari jabir,”Kami telah menyembelih kurban bersama-sama Rasulullah Saw, pada tahun Hudaibiyah, seekor  unta untuk tujuh orang.” (Riwayat muslim).

          Walaupun hukum berqurban itu sunnat tetapi menjadi wajib jika dinazarkan. Sabda  Rasullullah s.a.w: “Barang siapa yang bernazar untuk melakukan taat kepada Allah, maka hendaklah dia melakukannya.” (Fiqh al-Sunnah).

  • Pelaksanaan Qurban
  1. Binatang yang diqurbankan adalah jenis unta, lembu atau kerbau, kambing biasa yang berumur dua tahun, jika biri-biri telah berumur satu tahun atau telah gugur giginya sesudah enam bulan meskipun belum cukup satu tahun.
  2. Binatang itu disyaratkan tidak cacat, tidak buta sebelah atau kedua-duanya, kakinya tidak pincang, tidak terlalu kurus, tidak terpotong lidahnya, tidak mengandung atau baru melahirkan anak, tidak berpenyakit atau berkudis. Binatang yang hendak disembelih itu haruslah sehat sehingga kita sayang kepadanya.
  3. Waktu menyembelihnya sesudah terbit matahari pada Hari Raya Haji dan sesudah selesai sholat Idul Adha dan dua khutbah pendek, tetapi afdhalnya ialah ketika matahari naik seluruhnya pada Hari Raya Haji sehingga tiga hari sesuadah Hari Raya Haji (hari-hari Tastriqiaitu 11,12 dan 13 Zulhijjah).
  4. Daging qurban sunnat, orang yang berkorban disunnatkan memakan sedikit daging qurbannya. Pembahagian daging qurban sunnat terdapat tiga cara yang utamanya adalah mengikut urutan sepererti berikut:
  5. Lebih utama orang yang berqurban mengambil hati binatang qurbannya dan baki seluruh dagingnya disedekahkan
  6. Orang yang berqurban itu mengambil satu pertiga daripada jumlah daging qurban, dua pertiga lagi disedekahkannya.
  7. Orang yang berqurban mengambil satu pertiga daripada jumlah daging, satu pertiga lagi disedekahkan kepada fakir miskin dan satu pertiga lagi dihadiahkan kepada orang yang mampu. Sabda  Rasullullah s.a.w: “Makanlah oleh kamu sedekahkanlah dan simpanlah.”
  • Hikmah Qurban
  1. Menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim a.s.
  2. Menididik jiwa ke arah taqwa dan mendekatkan diri kepada Allah s.w.t.
  3. Mengikis sifat tamak dan mewujudkan sifat murah hati, mau membelanjakan harta di jalan Allah s.w.t.
  4. Menghapus dosa dan mengharapkan keridhoan Allah s.w.t.
  5. Menjalin hubungan kasih sayang antar sesama manusia, terutama antara golongan berada dengan golongan yang kurang bernasib baik.
  6. Akan memperoleh kendaraan atau tunggangan ketika akan melewati Sirat Al-Mustaqim di akhirat kelak. Sabda Nabi Muhammad saw, “ muliakanlah qurban kamu karena ia menjadi tunggangan kamu di titian pada hari kiamat.

Ulasan Singkat Tentang BALITBANGDA KUTAI KARTANEGARA

Pembentukan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara merupakan produk yang lahir sejak era Reformasi dengan  diterapkannya Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, sebagai wujud dari hasil amandemen konstitusi negara UUD 1945.  Pasal 18 ayat (2) UUD 1945 menyatakan bahwa Pemerintah Daerah Provinsi, Daerah Kabupaten dan Kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.)

Prinsip-Prinsip Pelaksanaan Otonomi Daerah melalui  Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 dilandasi pada otonomi luas, nyata dan bertanggung jawab. Pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas dan utuh diletakkan pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota, Sedangkan Otonomi yang berada pada Daerah Provinsi merupakan Otonomi yang bersifat  terbatas.  Sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia memberikan keleluasaan kepada Daerah untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah, dengan menekankan pada prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan dan keadilan serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah.

Berdasarkan Pasal 7 Undang-Undang No. 22 Tahun  1999 tentang Pemerintahan Daerah dinyatakan bahwa Kewenangan Daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan, kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, dan agama.

Oleh sebab itu berdasarkan pengaturan kewenangan sesuai dengan Pasal 7 dan Pasal 11 Undang-Undang No. 22 Tahun 1999, maka dibentuklah Badang Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara.  Melalui pembentukan Badan Penelitian dan Pengembangan daerah, diberikan peluang untuk dapat merumuskan, menetapkan dan melaksanakan kebijakan daerah secara mandiri. Kebijakan dimaksud dapat berupa Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah yang didasarkan tentunya pada hasil-hasil kegiatan penelitian dan pengembangan.

Selain itu, urgensi pembentukan Balitbangda sejalan dengan konsep pembangunan di era modern yang mensyaratkan hendaknya perencanaan pembangunan didasarkan pada hasil-hasil Research & Development (R & D) dalam rangka meminimalisir dampak negative dan kesalahan dalam proses perencanaan pembangunan.

Atas dasar  pertimbangan yuridis, historis dan geografis dengan luas wilayah Kutai Kartanegara yang mencapai 27.263 km2, dengan pembagian wilayah  terdiri dari 18 kecamatan dan 225 Desa dan kelurahan, maka pembentukan  Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara melalui Peraturan Daerah No. 18 Tahun 2001 dianggap penting dan relevan  dengan Pimpinan Pertama yang diangkat pada saat itu  adalah  Drs. H. Basran Yunus, MM.

Adapun tugas pokok dan fungsi Balitbangda adalah melaksanakan kegiatan Penelitian, pengkajian, pengembangan, perekayasaan, penerapan, pengoperasian, dan evaluasi kebijakan yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis, untuk memperoleh informasi, data dan keterangan yang terkait sebagai bahan  perumusan dalam penetapan kebijakan daerah. ( Soleh Pulungan)

ANALISIS POTENSI SDA SEBAGAI KOMODITAS UNGGULAN DI KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA TAHUN 2015

Pertumbuhan ekonomi daerah pada dasarnya dipengaruhi oleh keunggulan komperatif suatu daerah, spesialisasi wilayah, serta potensi ekonomi yang dimiliki oleh daerah tersebut. Oleh karena itu, pemanfaatan dan pengembangan seluruh potensi ekonomi menjadi prioritas utama yang harus digali dan dikembangkan dalam melaksanakan pembangunan ekonomi daerah secara berkelanjutan.

Penetapan suatu komoditas sebagai komoditas unggulan daerah harus disesuaikan dengan potensi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang dimiliki oleh daerah.  Sumber daya alam terdiri atas sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (unrenewable) dan sumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable).  Untuk itu, kajian ini mengkaji sumber daya alam yang diperbaharui (renewable), yakni sektor pertanian.

Komoditas yang dipilih sebagai komoditas unggulan daerah adalah komoditas yang memiliki produktifitas yang tinggi dan dapat memberikan nilai tambah sehingga berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat. Selain itu, penetapan komoditas unggulan daerah juga harus mempertimbangkan kontribusi suatu komoditas terhadap pertumbuhan ekonomi dan aspek pemerataan pembangunan pada suatu daerah (Syahroni dalam Syahab, dkk.,  2013).

Hal terpenting bagi ukuran komoditas adalah memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif sehingga mampu bersaing di pasar dengan komoditas pesaingnya. Oleh karena itu, sangat perlu diketahui apakah komoditas tanaman yang ada saat ini memiliki salah satu atau keduanya dari kriteria keunggulan tersebut.

Sektor pertanian dalam arti luas merupakan pembentuk struktur perkonomian yang utama setelah migas di Kutai Kartanegara, tetapi gambaran tersebut belum dapat menjelaskan dan mengarahkan secara lebih spesifik komoditas unggulan pertanian yang ada pada saat ini. Maka dipandang perlu untuk melakukan penelitian mengenai komoditi unggulan sebagai prioritas dan strategi pengembangannya, sehingga pada akhirnya nanti dapat diketahui komoditi unggulan mana saja yang dapat dikembangkan dan dapat bersaing kompetitif dengan komoditi dari luar daerah serta komoditi unggulan dapat menjadi penggerak perekonomian masyarakat di Kabupaten Kutai Kartanegara khususnya di kecamatan Kota Bangun, Tenggarong Seberang, dan Muara Jawa.

Tujuan Kajian

Tujuan yang hendak dicapai dalam kajian ini adalah sebagai berikut.

  1. Untuk mengetahui, menganalis, dan menetapkan sub sektor pertanian unggulan di Kecamatan Kota Bangun, Tenggarong Seberang, dan Muara Jawa.
  2. Untuk menentukan dan menganalisis komoditas unggulan yang akan dijadikan prioritas pengembangan di Kecamatan Kota Bangun, Tenggarong Seberang, dan Muara Jawa.
  3. Untuk menentukan strategi yang akan digunakan untuk mengembangkan komoditas unggulan di Kecamatan Kota Bangun, Tenggarong Seberang dan Muara Jawa.

 

Kegunaan Kajian

Kegunaan yang ingin diperoleh dari kegiatan ini sebagai berikut:

  1. Sebagai referensi bagi Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dalam mengembangkan dan memajukan komoditas unggulan daerah.
  2. Sebagai referensi bagi Pemerintah Kecamatan dalam mengembangkan dan memajukan komoditas unggulan daerah.
  3. Sebagai data dan informasi bagi investor (penanam modal) dalam mengembangkan dan mengelola komoditas unggulan daerah di Tiga Kecamatan.
  4. Sebagai rujukan bagi masyarakat dalam pengembangan komoditas unggulan daerah sesuai dengan potensi wilayah masing‐masing di Tiga Kecamatan.

Kesimpulan

  • Berdasarkan analisis LQ diketahui bahwa sub sektor pertanian unggulan untuk Kecamatan Kota Bangun adalah sub sektor tanaman bahan pangan dan sub sektor perikanan. Kecamatan Tenggarong Seberang sub sektor pertanian unggulan adalah sub sektor bahan pangan  dan sub sektor peternakan.  Selanjutnya untuk Kecamatan Muara Jawa sub sektor unggulan pertanian adalah sub sektor perikanan dan sub sektor perkebunan.
  • Melalui analisis AHP setelah diperoleh sub sektor unggulan, maka diperoleh komoditas prioritas yang dikembangkan untuk Kecamatan Kota Bangun adalah padi sawah dan perikanan keramba. Komoditas prioritas untuk Kecamatan Tenggarong Seberang adalah padi sawah dan ternak sapi.  Kecamatan Muara Jawa adalah perikanan tambak dan kelapa sawit.
  • Berdasarkan analisis SWOT diperoleh strategi pengembangan untuk komoditas prioritas masing-masing kecamatan.
  • Kecamatan Kota Bangun. Kecamatan Kota Bangun memiliki dua komoditas unggulan sebagai prioritas untuk dikembangakan.  Adapun berdasarkan hasil analisis strategi pengembangan komoditas padi sawah di Kecamatan Kota Bangun adalah menggunakan strategi diversifikasi. Selanjutnya strategi pengembangan komoditas perikanan keramba berdasarkan hasil analisis adalah dengan menggunakan strategi defensif.
  • Kecamatan Tenggarong Seberang. Komoditas unggulan dan sebagai prioritas untuk dikembangkan adalah padi sawah dan ternak sapi.  Berdasarkan hasil analisis strategi pengembangan padi sawah adalah strategi agresif. Demikian pula dengan strategi pengembangan komoditas ternak sapi yaitu dengan menggunakan strategi agresif.

Kecamatan Muara Jawa. Komoditas unggulan pertanian yang dijadikan prioritas pengembangannya adalah perikanan tambak dan kelapa sawit.  Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan strategi pengembangan komoditas perikanan tambak adalah dengan menggunakan strategi putar balik/turn-around.  Strategi pengembangan komoditas kelapa sawit yaitu dengan menggunakan strategi diversifikasi.

Kemeriahan HUR RI Ke 73

Memperingati dan memeriahkan HUT RI Ke-73

Lomba futsal pakai sarung

Lomba futsal pakai sarung

Balitbangda- Dalam rangka memperingati  Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-73 Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kutai Kartanegara  melaksanakan Upacara peringatan Hari kemerdekaan di  lingkungan Balitbangda yang dirangkai dengan Beberapa Lomba-lomba diantaranya ; lomba Futsal pakai sarung,  Bola Volly, Lari sarung, makan krupuk dan asen naga yang dilaksanakan pada hari 16 Agustus 2018 semua kegiatan ini diikuti oleh seluruh ASN dan THL dilingkungan balitbangda untuk memeriahkan HUT-RI yang ke 73 seperti di katakan oleh Koordinator Lomba Novan Fachrozie, S.Sos.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kutai Kartanegara Bapak Ir. H. Akhmad Hardi Dwi putra menyampaikan, Selain Memperingati upacara bendera HUT-RI untuk mengenang jasa pahlawan Pendiri Bangsa dan menyemarakannya dengan berbagai lomba, harapan adalah agar lebih tercipta keakraban seluruh ASN dan THL yang ada di Balitbangda sehingga didalam beraktivitas dikantor menimbulkan suasana yang lebih menyenangkan.(nrm)

Beseprah Tradisi Makan Bersama Masyarakat Kutai

Beseprah merupakan tradisi suku adat Kutai, penduduk asli di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Dalam Bahasa Kutai, beseprah berarti makan bersama-sama dengan cara duduk bersila di atas tikar. Festival Beseprah ini sebagian dari rangkaian acara Erau Adat Kutai dan Intenational Folk Art Festival (EIFAF) 2018 yang digelar pada Rabu (25/7/2018).

Beragam makanan khas Kutai disajikan untuk dinikmati bersama, makanan disediakan oleh berbagai pihak baik dari instansi swasta maupun pemerintah, warga tinggal memilih makanan yang mereka suka secara gratis, kemudian duduk bersila bersama-sama untuk menikmatinya.

Dalam tradisi ini tidak ada batasan sosial antara warga dan pejabat, mereka makan bersama menikmati hidangan tanpa membedakan jabatan, tentu saja ini untuk mengakrabkan dan mendekatkan pejabat dengan rakyatnya.

 

 

 

 

 

 

 

Tidak hanya warga lokal Tenggarong, beseprah tersebut juga diikuti sejumlah warga negara asing yang tergabung dalam tim kesenian yang berpastisipasi dalam Erau Adat Kutai dan Intenational Folk Art Festival (EIFAF) 2018, tentu saja acara makan bersama di Kota Raja ini sangat unik.

Penanda tanganan kerjasama kearsipan

Penanda Tanganan Naskah Perjanjian kerja sama tentang Kearsipan antara Balitbangda Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara dengan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara

Penanda tanganan kerjasama kearsipan

Penanda tanganan kerjasama kearsipan

Tenggarong- Pada Bulan April 2018 yang lalu, diadakan audit tentang kearsiapan oleh Dinas Kearsipan dan perpustakaan daerah Kabupaten kutai Kartanegara di Balitbangda dan hasil dari audit tersebut dinyatakan bahwa tata kelola arsip Balitbangda termasuk katagori rendah, harus diakui sampai saat ini kearsipan Balitbangda belum tertata dengan baik hal ini dikarenakan belum adanya SDM dan sarana serta pra sarana kearsipan yang memadai, namun setelah menerima hasil audit tersebut Balitbangda langsung mengambil langkah-langkah pembenahan secara bertahap dan menjadikan pemecut motivasi bagi Balitbangda untuk membuat penataan kearsipan di lingkungan Balitbangda menjadi lebih baik lagi.  hal tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dearah Bapak Ir. H. Akhmad Hardi Dwi putra pada cara Pembinaan Kearsipan dan Penanda tanganan Perjanjian kerja sama tentang kerasipan dengan Kantor Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara pada tanggal 4 Mei 2018.

Dalam sambutannya Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kutai Kartanegara mengatakan bahwa Kerja sama karsiapan ini sangatlah penting dilakukan agar tata kelola arsip dilingkungan pemerintahan Kabupaten kutai Kartanegara menjadi lebih baik, Konkritnya Penyelenggaraan kearsipan nasional belum bersifat terpadu, sistemik, dan komprehensif yang semuanya tidak terlepas dari pemahaman dan pemaknaan umum terhadap arsip yang masih terbatas dan sempit oleh berbagai kalangan, termasuk di kalangan penyelenggara negara dan espektasi kedepan pelan tapi pasti pengelolaan akan bersifat terpadu sistemik dan lebih komperhensip sebagaimana yang di muat didalam Undang Undang Nomor 43 tahun 2009 tentang Kearsipan.

Dalam kesempatan yang sama disampaikan tentang tata kelola kearsipan yang disampaikan oleh Para Arsiparis dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah kutai Kartanegara serta dialog  tentang hal-hal yang berhubungan dengan kearsipan tersebut.(nrm)

Jelai

Jelai Sebagai Bahan Pangan pokok alternatif selain beras

 

Jelai

Jelai

Tenggarong. Beras adalah merupakan makanan pokok mayoritas penduduk Indonesia, hal ini membuat kita termasuk dalam jejeran negara pengonsumsi beras terbesar di dunia, di era orde baru Indonesia sempat menjadi kelompok negara penghasil beras  terbesar di dunia, bahkan Indonesia pernah mencapai swasembada beras pada tahun 1984.

Seiring berjalannya waktu banyak perubahan kebijakan moderenisasi dan industrialisasi serta  bertambah pesatnya pertumbuhan  jumlah penduduk di Negara ini terlebih khusus di pulau jawa, dimana Pulau jawa adalah sentra penghasil beras terbesar ditanah air,tetapi kondisi ini menyebabkan terjadinya alih pungsi lahan yang semula adalah area persawahan beralih menjadi wilayah pemukiman penduduk, pusat industri, area tempat hiburan dan alih funsi lainnya. Akibat terjadinya alih fungsi lahan tersebut secara pelan tapi pasti lahan persawahan sebagai tempat bercocok tanam padi menjadi sangat berkurang, otomatis hasil panen dari lahan yang semakin berkurang tersebut ikut menurun dan akhirnya saat ini negara kita menjadi importir yang termasuk di dalam 10 besar pengimport beras terbanyak dunia.

Melihat tingginya ketergantungan konsumsi beras ditanah air, maka Balitbangda tertarik melakukan penelitian tentang pengembangan plasma nutfah tanaman jelai sebagai sumber pangan alternatif potensial tahun 2016 kemudian dilanjutkan dengan kajian karakteristik varietas jelai yang kegiatan tersebut dimulai bulan Maret sampai dengan bulan September 2017. Hal ini dikatakan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan daerah (Balitbangda) Kabupaten Kutai Kartanegara Ir. H. Akhmad Hardi Dwi Putra dalam sambutannya pada acara seminar hasil “kajian karakteristik varietas jelai (coix lacryma – jobi l) sebagai plasma nutfah tanaman pangan alternatif di kabupaten kutai kartanegara”, Di dalam  seminar hasil tersebut dikatakan bahwa Kelebihan tanaman jelai diantaranya, pertama jelai merupakan  tanaman yang adaptif pada lahan kering, kedua mempunyai nilia gizi yang tinggi, khususnya kandungan protein sementara beras lebih tinggi kandungan karbohidrat, ketiga merupakan tanaman yang menahun (perennial) yang dapat dipanen beberapa kali dalam setahun.

Melihat dari kelebihan dan keistimewaan tanaman jelai tersebut diharapkan dapat memberikan solusi alternatif mengurangi ketergantungan kita terhadap beras, karena tanaman jelai sebagai makanan pokok yang tidak hanya mengenyangkan perut tetapi baik juga untuk kesehatan tubuh kita.(nrm)

 

 

 

Wakil Bupati Panen Jelai

Wakil Bupati Kukar Panen Perdana Tanaman Jelai Sebagai Hasil Kegiatan LITBANG

Wakil Bupati Panen Jelai

Wakil Bupati Panen Jelai

Wakil Bupati Kutai Kartanegara Drs. Edi Damansyah, M.Si  melakukan panen perdana tanaman Jelai di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Gunawan (PKBM Gunawan) Desa Loh Sumber Kecamatan Loa Kulu. Pada hari Selasa tanggal 5 September 2017. Panen perdana jelai tersebut merupakan hasil Kajian Karakteristik Varietas Jelai (CoixLacryma–Jabi L) sebagai Plasma Nuftah Tanaman Pangan Alternatif di Kabupaten Kukartahun 2017, dan merupakan Rencana Kerja Tahunan (RKT) Badan Penelitiandan Pengembangan  Daerah Kabupaten Kutai kartanegara.

Wakil Bupati Kutai kartanegara memberikan apresiasi sekaligus menyambut baik terhadap hasil penelitian yang dilakukan oleh Tim Peneliti Balitbangda Kutai kartanegar bekerjasama dengan Tim Peneliti dari Fakultas Pertanian Unmul Samarinda. Dari hasil kajian tersebut, diketahui bahwa tanaman Jelai merupakan tanaman asli yang cukup prospektif untuk dikembangkan di Kabupaten.Kutai Kartanegara.

Sementara itu, Sekretaris  Balitbangda Kukar H. Yusra, SP, MM, menjelaskan kegiatan kajian  Karakteristik  Varietas Jelai merupakan kelanjutan dari kajian identifikasi tanaman Jelai tahun 2016 sebagai sumber panganal ternatif yang diharapkan cukup  potensial dikembangkan  di Kabupaten Kutai kartanegara.

Lebih lanjut dikatakannya budidaya tanaman Jelai sebenarnya  telah lama dilakukan oleh petani tradisional di Kukar, Jelai biasanya ditanam  bersamaan dengan padi ladang, namun sejak era program Bimas dan Inmas budidaya tanaman padi, para petani lebih fokus mengembangkan budidaya tanaman padi sawah.  Sehingga budidaya padi ladang secara perlahan mengalami penurunan,

Mencermati fenomena tersebut, Balitbangda Kukar tertarik untuk meneliti dan mengembangkan tanaman Jelai ini sebagai sumber pangan alternatif yang cukup potensial bagi masyarakat untuk masa mendatang di Kukar.Hal ini dikaitkan dengan perlunya ketersediaan pangan alternatif mengingat penurunan produksi padi yang mengalami tantangan akibat terjadinya alih fungsi lahan.

Acara Panen tanaman Jelai dihadiri oleh Kepala Disperindakop Kukar H Surip, Kadis Pertanian, Penyuluhan dan Peternakan Kabupaten Kutaikartanegara Sumarlan,dan Camat Loa Kulu Ardiansyah. Selain itu, acara tersebut dihadiri oleh para peneliti, penyuluh pertanian dan perkebunan, staf Balitbangda Kukar dari OPD di Kabupaten. Kutai Kartanegara.