KAJIAN PENELUSURAN SEJARAH KERAJAAN KUTAI MULAWARMAN

Kutai Raya adalah kawasan yang memiliki perjalanan sejarah panjang sejak masa berburu dan mengumpul makanan tingkat lanjut pada zaman prasejarah, lalu memasuki, masa Hindu-Budha, masa perkembangan islam dan masa kolonial, hingga ke masa kemerdekaan RI sampai kini. Salah satu daerah pada kawasan Kutai Raya — sebutan eks wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara yang terbilang banyak memiliki jejak hitoris-arkeologis adalah Kutai Kartanegara. Bahkan, jejak budayanya melintas masa dan tersebar di penjuru daerahnya, utamanya pada DAS (Daerah Aliran Sungai) Mahakam beserta anak – anak sungainya. Oleh karena itu, cukup alasan untuk menyatakan bahwa Kutai Kartanegara konon merupakan ajang bagi berlangsungnya ‘Sejarah Peradaban Sungai (Historical River Civilization)”.

Hasil Survey Pra Arkeolog

Survei ini dilakukan di wilayah Kecamatan Muara Kaman Kabupaten Kutai Kartanegara pada sub-DAS Tengah Mahakam serta DAS Sabintulung, yang mecakupi tiga desa, yaitu : (1)Muara Kaman Hulu, (2)Muara Kaman Hilir, dan, (3)Sabintulung. Riset berlangsung selama 5 bulan, dengan rincian sebagai berikut.

1. Desa Muara Kaman Hulu

Bukit Brubus

Areal survei diarahkan ke sekitar Lesong Batu, yang meliputi (a) situs Lesong Batu, (b) makam-makam Islam kuno — utamanya makam tokoh yang tempat asalnya dari Sabintulung, (c) Museum Situs Kerajaan Kutai Martapura, dan  (d) reruntuhan Candi  yang boleh jadi konon merupakan tempat asal dari artefak Lesong Batu. Hingga sejauh ini situs Lesong Batu dan Museum Situs kurang disertai dengan narasi. Museum yang ada meski telah sekitar 10 tahun dibangun, namun amat kurang dalam hal benda koleksi dan tata pamernya tidak komunikatif serta kurang informatif untuk kepentingan pembelajaran. Eks Rawa-rawa Purba di Desa Muara Kaman Hulu yang disurvei meliputi : (a) eks rawa purba di sekitar Tanjung Serai, (b) eks rawa purba di Tambak Malang, dan (3) eks rawa purba Jempet. Hasil survei memberikan gambaran bahwa tiang-tiang ulin di eks rawa purba dekat Tanjung Serai sebagai sisa dari bangunan berpanggung masa lalu.

Eks Rawa-Rawa Purba

Survei di eks Rawa Purba Tambak Malang di     maksudkan untuk mendapatkan beberapa pertimbangan bagi kemungkinan dilakukan ekskavasi di areal ini. sehubungan pada tahun 1980-an pernah diketemukan kayu-kayu kuno yang diperkirakan adalah sisa kapal sungai yang tenggelam di rawa purba. Temuan ini didapatkan ketika penggalian tanah untuk membuat badan jalan bagi ‘jalan darat’ di Tambak Malang. Info yang diperoleh adalah bagian kapal yang     terlihat dinding kapal bagian atas warga menyebutnya dengan “gardu” pada sekitar lunas depan kapal.  Warga sekitar masih cukup ingat  mengenai lokasi temuan.

2. Desa Muara Kaman Hilir

Survei di Desa Muara Kaman Hilir diarahkan ke gunung tepatnya di “tanah membukit” bernama Martapura ada penyebutan lain yang kurang beralasan, yaitu “Martadipura”. Ketika air Mahakam meluap, maka tanah yang meninggi ini berubah menjadi “pulau (nusa)”, sehingga ada sebutan “Nusa Martapura”. Areal ini berada di seberang Desa Muara Kaman Hulu, yang masuk dalam wilayah Desa Muara Kaman Hilir. Ada empat yang disurvei di Martapura, yaitu : (a) Batu Bai, (b) Jejak Benteng Kuno, (c) Nisan-nisan ber-Epitaf, serta (d) Paleo-ekologi Martapura dan lingkungan di sekitarnya.

3. Desa Sabintulung

Survei di Desa Sabintulung dilaksanakan dengan beberapa pertimbangan : (a) Relasi historis antara Muara Kaman Hulu dengan Sabintulung disuratkan dalam Epitaf pada nisan ulin 1 dan nisan ulin 2 di Benua Lawas, yang menyebut “Ibu dari Ni Raden Pati orang Sabintulung” (nisan 1) dan “orang dari Sabintulung yang wafat pada awal Muharam (nisan 2); (b) Adanya suatu tempat dengan unsur sebutan Arkhais “Benua” di Sabintulung, yaitu “Benua Tuha”, yang mengingatkan kita pada toponimi “Benua Lawas” pada Muara Kaman Hulu maupun “Benua Puhun”; (c) Diperoleh peninggalan arkeologis di halaman rumah H. Emong pada akhir tahun 1990-an berupa Peding (mustinya diidentifikasi Upawita) emas seberat 9 ons.

KESIMPULAN

Terhadap temuan sisa tiang-tiang ulin di rawa purba dekat Tanjung Serai, perlu disadari bahwa ekskavasi yang telah dilakukan pada tahun 2006 sebenarnya belum tuntas, baru pada tahap permulaan, sehingga perlu untuk dilakukan ekskavasi lanjutan. Ada baiknya, ekskavasi mendatang dilakukan pada musim kemarau karena tanahnya yang berupa eks rawa purba itu memiliki kandungan air yang cukup besar. Temuan ini penting artinya untuk mendapatkan gambaran mengenai cara dan pola bermukim warga di Muara Kaman pada masa lampau menurut pola permukiman rawa dengan rumah tinggal arsitektur berpanggung. Ekskavasi di areal rawa purba di Muara Kaman Hulu perlu dilakukan terhadap sisa kapal sungai di Tambak Malang dan Rawa Jempat guna mencari dan menemukan komponen-komponen lainnya dari kapal sungai yang tenggelam tersebut.

REKOMENDASI

Adapun areal yang direkomendasi untuk dilaksanakan riset historis-arkeologis pada kurun waktu tiga tahun ke depan adalah : (1)Jejak arsitektur berpanggung di area eks rawa purba sekitar Tanjung Serai di Muara Kaman Hulu sebagai ekskavasi lanjutan, (2)Ekskavasi jejak kapal sungai di eks rawa purba Tambak Malang dan Rawa Jempet di Muara Kaman Hulu sebagai suatu penelitian baru, (3)Pemetaan paleo-ekologis di nusa/gunung Martapura dan lingkungan di sekitarnya pada Muara Kaman Hilir, termasuk juga jejak benteng kuno, sebagai suatu penelitian baru, (4)Ekskavasi sekitar lokasi Batu Bai di Martapura, sebagai penelitian baru, (5)Survei permukaan makam-makam Islam di Nusa Martapura, Muara Kaman Hulu dan Hilir maupun Sabintulung, khususnya terhadap nisan tua yang ber-Epitaf, sebagai penelitian lanjutan,(7) Ekskavasi pada Benua Tuha di Sabintulung sebagai penelitian baru. (8)Ekskavasi di Benua Puhun sebagai penelitian baru.