IDENTIFIKASI TANAMAN JELAI (Coix lacryma-jobi L.) SEBAGAI SUMBER PANGAN ALTERNATIF

YANG PRODUKTIF DI KABUPATEN

KUTAI KARTANEGARA


ABSTRAK

Produksi padi sebagai sumber pangan pokok di Kalimantan Timur hingga saat ini belum dapat mencapai swasembada, dan Kabupaten Kutai Kartanegara sebagai penyumbang produksi padi terbesar bagi Kalimantan Timur kemampuan produksinya cenderung terus menurun. Untuk itu perlu dikembangkannya jenis tanaman pangan alternatif setara padi. Tanaman pangan alternatif untuk pengganti padi sesungguhnya relatif banyak salah satunya adalah tanaman jelai. Tanaman jelai merupakan tanaman pangan alternatif pengganti padi yang mempunyai banyak keunggulan. Beberapa keunggulan tanaman jelai dibandingkan dengan padi antara lain: (1) mempunyai daya kompetisi terhadap gulma lebih tinggi, (2) produktivitas per unit luas lahan per tahun lebih tinggi, (3) kandungan nutrisinya mempunyai komposisi kadar protein 15-26% dan karbohidratnya lebih rendah dibandingkan dengan beras, (4) mempunyai manfaat sebagai komponen obat herbal, (5) adaptif untuk dibudidayakan pada lahan kering atau ladang, sehingga tidak memerlukan infrastruktur irigasi.

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui berbagai aspek budidaya dan pengembangan tanaman jelai sebagai bahan pangan alternatif di Kutai Kartanegara, (2) Melakukan evaluasi produktivitas tanaman jelai, dengan perlakuan optimalisasi dosis pupuk, (3) Melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap kandungan nutrisi tanaman jelai. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Loh Sumber Kecamatan Loa Kulu Kabupaten Kutai Kartanegara. Penelitian dilaksanakan selama 6 (enam) bulan yaitu pada bulan Mei – Oktober 2016, dengan analisis data yang digunakan adalah analisis ragam pada taraf 5%.

Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Berdasarkan indikator variabel produksi, tanaman jelai sangat respon terhadap pemupukan, peningkatan dosis pupuk secara nyata (a) meningkatkan produksi, yang didukung oleh (b) peningkatkan jumlah biji per malai, dan (c) rata-rata berat biji. (2) Berdasarkan variabel anakan produktif, produksi tanaman yang dicapai dalam penelitian ini belum maksimum (sekitar 3 ton/ha), jumlah anakan produktif masih di bawah 50%. (3) Perlakuan pemupukan relatif kurang berpengaruh terhadap tinggi tanaman jelai, karena perlakuan P3 yang menerima pupuk dalam jumlah yang paling banyak ternyata tidak lebih tinggi dari perlakuan tanpa pemberian pupuk atau kontrolnya. (4) Postur tinggi tanaman jelai mendukung kemampuannya bersaing dengan gulma, pada umur 15 HST tingginya telah mencapai > 20 cm dan pada umur 75 HST mencapai > 200 cm dan pada saat panen tingginya dapat mencapai 300 cm. (5) Berdasarkan hasil pengamatan dan identifikasi hama dan penyakit tanaman yang dilakukan, dalam penelitian ini tidak mengalami kendala berarti dalam hal serangan hama dan penyakit. Pengamatan terhadap serangan hama dan penyakit, hanya ditemukan dua serangan hama dari kelompok serangga dan dua gejala serangan penyakit dari kelompok jamur dan bakteri patogen, dengan intensitas serangan yang masih relatif rendah.