Kajian Plasma Nutfah Tumbuhan Doyo

Keanekaragaman genetik merupakan sumber daya perekonomian, pariwisata, kesehatan, dan budaya. Keberadaan keanekaragaman genetik itu sendiri tidak merata di setiap wilayah, bergantung pada ekosistem wilayahnya (Wardana 2002). Penggunaan potensi plasma nutfah telah berhasil meningkatkan produksi pertanian, tetapi tanpa disadari keberhasilan tersebut ternyata memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit, antara lain berupa hilangnya sumber daya genetik yang sebagian besar belum teridentifikasi, terutama yang ada di kawasan hutan.

Kalimantan Timur memiliki keanekaragaman plasma nutfah tumbuhan serat, antara lain adalah tumbuhan Doyo (Curculigo latifolia).  Tumbuhan Doyo merupakan tumbuhan spesifik dengan morfologi menyerupai  tumbuhan  pandan.  Tumbuhan ini termasuk tumbuhan rendah (perdu) yang memiliki habitat di lantai hutan.

Secara tradisional, tumbuhan doyo banyak dimanfaatkan oleh masyarakat lokal (dayak) digunakan untuk bahan dasar tenunan tradisional dengan memanfaatkan daun tumbuhan doyo. Daun doyo dipotong sepanjang 1-1,5 meter dan direndam di dalam air. Setelah daging daun hancur lalu seratnya digunakan sebagai bahan tenunan kain doyo (ulap doyo).

Ulap doyo dianggap sebagai tenun ikat yang sangat khas Dayak Benuaq. Motifnya stilasi dari bentuk flora, fauna, dan alam mitologi, sebagaimana lazimnya motif hias masyarakat Dayak lainnya. Akulturasi dengan budaya lain juga meresap hingga ke pedalaman. Maka masyarakat Benuaq pun kemudian mengenal kain tenun kapas dengan warna-warni yang sangat kontras dengan warna serat tenun mereka. Dan dengan sangat kreatif masyarakat Benuaq mengaplikasikan kain-kain tersebut pada karya tenun ikat mereka. Hasilnya adalah busana upacara yang dibuat dari kombinasi tenunan serat doyo dengan kain warna-warni sebagai corak hias yang artistik, misalnya busana adat yang dipakai oleh para pemeliaten (ahli pengobatan tradisional) Kain tenun ulaf doyo beberapa waktu yang lalu, pernah menjadi bahan cinderamata dan hiasan bahkan digunakan untuk bahan pakaian modern. Sehingga mampu menunjang ekonomi masyarakat, terutama di Desa Tanjung Isui, Kecamatan Jempang.

Eksistensi keberadaan Ulaf Doyo (kain Doyo) saat ini sudah agak menurun, hal ini disebabkan karena pengrajin tenun yang sudah berkurang ditambah lagi dengan berkurangnya populasi tumbuhan doyo yang dekat dengan desa sekitar.  Selain itu hingga saat ini tumbuhan doyo tersebut belum dibudidayakan oleh masyarakat, sehingga  hal ini berpeluang terjadi kepunahan. Kajian  ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang jenis, dan karakteristik tumbuhan doyo Kabupaten Kutai Kartanegara, serta penyebaran tumbuhan doyo di wilayah administratif Kabupaten Kutai Kartanegara dan pemanfaatannya oleh masyarakat lokal.

Kegiatan ini dilaksanakan di 5 (lima) Kecamatan  di Kabupaten Kutai Kartanegara meliputi : Kecamatan Tabang, Kecamatan Kembang Janggut, Kecamatan Kenohan, Kecamatan Muara Muntai dan Kecamatan Kota Bangun. Berdasarkan hasil analisis tanah pada tempat tumbuh tanaman Doyo di berbagai wilayah studi, menunjukkan bahwa tumbuhan doyo dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, dan lingkungan agroekosistem.

Salah satu alat perkembangbiakan tumbuhan Doyo secara generatif, yaitu melalui biji, maka berdasarkan hasil karakterisasi ciri morfologi biji dan buah tumbuhan Doyo adalah :

  • Buah yang telah matang berbentuk kerucut bulat, berwarna putih dan memanjang pada bagian ujungnya (berwarna agak kehitaman) seperti pada Gambar 2.
  • Buahnya berada dalam bentuk tandan, bentuk buah oval sampai silinder, mengandungi banyak biji berwarna hitam, bila masak daging buah bertekstur lembut dan berasa manis.
  • Bentuk buah tumbuhan Doyo ada yang bulat dengan ujung lancip. Ukurannya sekitar panjang sampai ke ujung 5 cm dan lebar 5 – 2 cm.
  • Kulit buah tampak berbulu-bulu halus seperti beludru dan berwarna putih keabuan.
  • Daging buahnya putih.
  • Di dalam daging buah terdapat biji, ada jenis buah Doyo yang bijinya tersusun rapi dan buah doyo yang memiliki Biji letaknya di dalam daging buah berpencar serta berukuran lebih kecil.
  • Biji Tumbuhan Doyo berwarna hitam yang umumnya tersebar di dalam daging buah, sehingga pada penampang melintang buah tampak berbintik-bintik, seperti daging buah berry.

 KESIMPULAN

  1. Tumbuhan Doyo merupakan tumbuhan semak, dengan daur hidup Parenial, berdasarkan taksonomi tumbuhan termasuk dalam famili : Hypoxidaceae atau Amaryllidaceae, genus : Curculigo dan nama latinnya adalah  Curculigo latifolia, sp.
  2. Tumbuhan doyo memiliki penyebaran yang luas, dan pada semua wilayah studi terdapat populasi  doyo dengan kisaran sebaran populasi per titik sekitar 10 – 50 m2.
  3. Hasil identifikasi eksplorasi tumbuhan doyo, terdapat 11 (sebelas) karakter pembeda (marker) antar jenis tumbuhan doyo yang tersebar di 5 (lima) wilayah studi, yaitu (a). Tebal daun, (b), Tinggi tanaman, (c), Ukuran daun, (d). Warna tangkai daun dan sulur daun (d). Warna mahkota bunga,     (e). Bentuk buah, (f). Bentuk tandan buah, (g). Bentuk ujung daun, (h). Bentuk batang, (i). Organ bunga, (j). Susunan biji dalam daging buah, (k). Habitat (tempat tumbuh) alami.
  4. Kandungan serat daun doyo sekitar 40 – 55 % berat segar tanaman.
  5. Populasi tumbuhan doyo sebarannya paling banyak ditemui pada lahan Hutan Sekunder Muda dengan intensitas cahaya sekitar 50 – 70 persen.
  6. Tumbuhan doyo mengandung bahan metabolit sekunder, yaitu : senyawa Sinomenine (C19H23NO4 ).
  7. Tumbuhan sejenis Doyo banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku pakaian, karena sifatnya yang dapat menyerap keringat dengan baik dan cepat kering serta dapat  menghambat berkembangbiakan bakteri yang menimbulkan aroma pada tubuh manusia (berdasarkan kajian literatur).
  8. Tumbuhan Doyo dapat dibudidayakan secara intensif dengan 2 (dua) cara, yaitu dengan stolon/umbi akar (cara vegetatif) dan dengan bijinya (cara generatif).

 SARAN

  1. Untuk menghindari kepunahan terhadap keberadaan tumbuhan doyo di alam, perlu adanya upaya pelestarian dalam bentuk budidaya secara intensif.
  2. Karena keberadaan populasi tumbuhan doyo di alam tersebar pada berbagai lokasi, terutama hutan sekunder muda dan lahan hutan, maka dengan tingginya proses percepatan alih fungsi lahan, dikhawatirkan kelestarian tumbuhan doyo akan terganggu.
  3. Perlu adanya kajian yang lebih mendalam tentang potensi dan manfaat tumbuhan doyo, baik sebagai bahan baku serat alam maupun sebagai fungsi dan nilai tambah lainnya.
  4. Adanya motivasi dari pemerintah, agar masyarakat adat (lokal), terutama suku Dayak yang berada di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara, agar dapat memanfaatkan dan memberdayakan kembali tumbuhan doyo sebagai salah satu bahan pakaian tradisional (seperti Ulaf Doyo/kain Doyo) atau modern, agar eksistensi budaya lokal tetap lestari.